Desa

Ulat sutra di kolong rumah orang Pising

Industri sutra adalah satu dari sekian usaha yang koyak dihantam pandemi. Di Desa Pising, hingga kini ada 300 kg benang sutra yang bertumpuk karena kurangnya aktivitas tenun sejak tahun lalu. Desa di Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng ini sejak 1960-an, jadi sentra industri sutra.

Shany Kasysyaf
Ulat sutra di kolong rumah orang Pising
Kokon atau kepompong ulat sutra yang sedang dijemur dan akan dipintal jadi benang. Lokasi, Desa Pising, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan (21/2/2021). Shany Kasysyaf / Lokadata

Hujan sedang mengguyur Desa Pising, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Nurdin (65) yang menjemur di pekarangan, harus memindahkan kokon (kepompong ulat sutra) ke kolong rumah panggung. Cuaca membuat produksi benang tertunda sedikit lebih lama. Tapi, itu bukanlah satu-satunya masalah.

Benang sutra yang belum terjual sejak tahun lalu, bertumpuk-tumpuk dalam lemari kayu setinggi kira-kira 2 meter. “Hampir 300 kg macet. Benang sutra tidak tersalurkan, ” kata Nurdin sembari mengisap kretek, Ahad, 21 Februari 2021.

Setiap bulan, lelaki bertubuh ramping ini membeli benang sutra rata-rata 15 kg. Bukan hanya dari petani ulat di Desa Pising, beberapa berasal dari tempat lain di sekitar kecamatannya. Desa Lalabata Riaja, Desa Sering, hingga Desa Pesse.

Meski benang tak pasti terjual, Nurdin harus membelinya. Kadang tidak dapat untung karena produsen kain menawar harga lebih rendah. “Yang penting saya bisa pertahankan citra persutraan di Soppeng,” tuturnya.

Desa Pising—tempat tinggalnya, jadi salah satu tempat di Kabupaten Soppeng yang menggantungkan hidup dari usaha pertanian ulat dan pemintalan benang. Para petani membayar pemintal untuk mengolah kokon (kepompong ulat sutra) dengan biaya 60.000 rupiah/kg benang. Hasilnya akan dijual ke Nurdin, kemudian didistribusikan ke daerah lain.

Hingga saat ini benang sutra asli dijual 500.000 rupiah/kg, berlaku sejak Agustus 2020. Dulu, 650.000 rupiah/kg. Harganya sudah turun, bahkan sebelum pandemi. Nurdin membelinya dari petani di kisaran 550-520 ribu rupiah per-kilogram. Sedangkan, produsen tenun di Wajo saat ini hanya mampu membeli di harga 400.000 rupiah.

Usaha tenun sutra memang sedang lesu. Daya beli masyarakat menurun karena guncangan ekonomi. Berdasarkan data Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sulawesi Selatan, ada 3.363 pekerja yang dirumahkan sejak wabah Covid-19, 340 di antaranya dibayar separuh upah. Sedangkan, 1.876 pekerja sisanya dirumahkan tanpa pendapatan. Praktis, tidak ada pesanan kain yang membludak di hari raya atau musim pernikahan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Benang sutra yang telah dipintal dan bertumpuk selama pandemi di Kampung Sabbeta, Desa Pising (21/2/2021).
Benang sutra yang telah dipintal dan bertumpuk selama pandemi di Kampung Sabbeta, Desa Pising (21/2/2021). Shany Kasysyaf / Lokadata

Kampung Sabbeta

Nurdin mengklaim jika pertanian ulat sutra di kampungnya sudah berlangsung sejak dekade 1960-an. Dan terus bernafas hingga saat ini. Namun, usaha sutra alam sudah berlangsung satu dekade sebelumnya menurut Andi Sadapotto—akademisi Universitas Hasanuddin.

Tentara yang datang dari Jawa membawa bibit ulat sutra dan murbei. Kemudian tersebar ke beberapa kabupaten seperti Enrekang, Soppeng, dan Wajo.

Di antara tiga kabupaten itu, Soppeng yang tumbuh paling besar dalam pertanian murbei dan ulat sutra. Di Enrekang, budidayanya bisa dikatakan mati sejak para pelaku beralih ke komoditas bawang yang keuntungannya lebih besar. Sedangkan kabupaten Wajo, lebih sukses sebagai produsen kain dan sarung sutra.

Setelah beroperasi puluhan tahun, usaha pengolahan ulat sutra di Desa Pising sering jadi area kunjungan. Mulai dari peneliti, wisatawan, mahasiswa, NGO, hingga institusi pemerintahan. Namun para pengunjung harus mendatangi banyak tempat untuk melihat aktivitas pertanian ulat dan pemintalan yang tersebar di seluruh desa.

Untuk memudahkan para pengunjung, diresmikanlah “Kampung Sabbeta” pada tahun 2018 di Dusun Ammesangeng. Beberapa institusi pemerintahan terlibat dalam penyelenggaraannya. Dari level desa hingga kabupaten.

Sabbe sendiri dalam bahasa bugis berarti sutra. Kampung Sabbeta memang berfungsi sebagai etalase desa yang menampilkan produksi sutra dari hulu ke hilir. Pertanian murbei dan ulat, pengolahan kokon jadi benang, hingga proses tenun kain dan sarung. Nurdin, adalah orang yang ditunjuk sebagai pengelolanya.

Plang penunjuk jalan Kampung Sabbeta (21/2/2021).
Plang penunjuk jalan Kampung Sabbeta (21/2/2021). Shany Kasysyaf / Lokadata

Ketergantungan bibit impor

Meski sudah berumur dan tumbuh cukup besar, usaha pertanian ulat sutra tidak lepas dari guncangan. Andi Sadapotto menjelaskan, di rentang 1972-1973, ulat sutra lokal di Sulawesi Selatan terkena wabah pebrine.

Penyebabnya adalah protozoa Nosema bombycis. Parasit yang menyerang ulat sutra dari fase telur hingga dewasa. Infeksinya dikenali lewat kemunculan bintik coklat pada tubuh ulat, atau kematian sebelum sempat jadi kokon. Ulat lokal akhirnya dimusnahkan dan dilarang karena dianggap sebagai penyebar wabah.

Kemunculan wabah menyebabkan produksi sutra turun drastis. Padahal setahun sebelumnya, produksi sutra mencapai puncak hingga menghasilkan 140 ton/tahun. Untuk memenuhi kebutuhan sutra nasional, akhirnya telur sutra diimpor dari Jepang. Namun harganya cukup mahal dan keberlanjutan produksinya tidak terjamin.

Antara 1975 sampai 1984, pemerintah Indonesia memang bermitra dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). Tujuannya adalah mengembangkan usaha sutra di Sulawesi Selatan lewat proyek ATA-72.

Desa Pising, Kecamatan Donri Donri, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan dalam tangkapan layar Dashboard Lokadata. Desa ini merupakan salah satu sentra industri sutra di Sulawesi Selatan
Desa Pising, Kecamatan Donri Donri, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan dalam tangkapan layar Dashboard Lokadata. Desa ini merupakan salah satu sentra industri sutra di Sulawesi Selatan Dashboard Lokadata / Lokadata

Sampai sekarang, budidaya ulat sutra di Soppeng dan daerah sekitarnya justru mengandalkan bibit telur dari Cina. Harganya 500-600 ribu rupiah/boks. Pertama kali didatangkan tahun 2005 oleh CV Massalangka, bibit impor ini kemudian jadi primadona di kalangan petani ulat.

Menurut Andi Massalangka (78)—pemilik CV Massalangka, bibit ulat Cina diminati karena unggul di berbagai aspek. “Daya tahannya bagus, kualitas produksinya juga bagus, daya pintalnya juga lebih bagus,” jelasnya saat diwawancarai di rumahnya di Desa Tottong, 10 menit dari Desa Pising.

Manji (60) petani ulat di desa Pising punya pendapat yang sama soal kualitas telur ulat dari Cina. Menurutnya, bibit impor ini bisa menghasilkan hingga 5 kg benang. Sedangkan keterangan Suarni, petani ulat yang lebih muda dari Manji, bibit telur lokal milik Perum Perhutani hanya mampu menghasilkan 1 kg benang/boks.

Meski harga bibit ulat dari Perhutani lebih murah, yaitu 100.000/boks, kedua perempuan ini tetap memilih bibit impor. “Kalau Cina, memang mahal, tapi hasilnya cukup,” terang Suarni. Di Pising, profesi petani ulat memang didominasi oleh perempuan.

Perum Perhutani sendiri telah menjadi penyuplai telur ulat sejak 1986 dan sempat menopang industri sutra di Soppeng. Jika distribusi bibit dari Cina terlambat, para petani ulat biasanya akan membeli ke Perhutani. Namun sejak 2016 kemarin, bibit milik Perum dihentikan produksinya untuk sementara.

Ulat sutra dewasa yang siap mengokon dan telah melalui instar 5. Lokasi, Desa Pising (13/9/2020)
Ulat sutra dewasa yang siap mengokon dan telah melalui instar 5. Lokasi, Desa Pising (13/9/2020) Shany Kasysyaf / Lokadata

Bantuan melimpah tanpa pewaris

Banyak pihak yang mengusahakan roda produksi benang sutra di Soppeng tetap berjalan. Tahun lalu, Pemda Kabupaten Soppeng bersama satuan kerja Dinas Tanaman Pangan Holtikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan menggunakan APBD 250.000.000 rupiah untuk pengadaan 500 boks telur ulat Cina. Pemenang tendernya adalah CV Massalangka.

Masih di tahun yang sama, Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan juga menggunakan APBD, masing-masing 71.500.000 rupiah untuk kelompok tani ulat di Kabupaten Wajo dan Soppeng. Anggaran ini ditujukan untuk pembuatan rumah ulat sutra.

Sedangkan di tahun ini, Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan UMKM Kabupaten Soppeng menggunakan APBD dalam jumlah besar untuk mengembangkan usaha pemintalan. Dana yang digelontorkan adalah Rp123.750.000 untuk mesin pengupas kokon, Rp497.090.000 untuk mesin pemasakan kokon, Rp594.933.300 untuk mesin penggulung semi-otomatis, dan Rp187.000.000 untuk mesin penggulungan ulang.

Bantuan yang menyentuh angka milyaran ini mungkin tak akan ada lagi dalam beberapa tahun ke depan. Sebab, rata-rata generasi ketiga dari petani ulat di Desa Pising adalah lulusan universitas. Mereka lebih memilih jadi pegawai atau merantau ketimbang melanjutkan usaha milik orang tuanya.

Menurut Manji, jika petani generasi kedua seperti dirinya memasuki usia lanjut usaha pertanian ulat akan berhenti dalam sebuah keluarga. “Saya saja kalau nanti sudah meninggal tidak ada nanti penerusnya,” keluhnya.

“Kalau bantuan banyak sekali. Baru buka lahan sudah ada bantuan. Tapi tidak mau orang,” tambah Manji.

Kebun murbei milik Manji, di halaman belakang rumahnya (21/2/2021)
Kebun murbei milik Manji, di halaman belakang rumahnya (21/2/2021) Shany Kasysyaf / Lokadata

Tetap bertani ulat

Manji mulai menggeluti pertanian ulat sutra sejak tahun 1974. “Saya tamat SD, langsung pelihara ulat,” kenangnya. Dia melanjutkan pekerjaan ini dari orang tua.

Perempuan ini bertahan karena merasa pertanian ulat cukup menguntungkan. Dalam tiga bulan, panen kokon bisa dilakukan dua kali. Harga jualnya setelah jadi benang, juga lebih tinggi dari hasil perkebunan lain seperti kelapa, atau jagung. Manji juga menanam sendiri murbei di halaman belakang seluas 4x20 miliknya.

Di Pising, murbei ada di hampir tiap pekarangan dan beberapa kebun. Kebanyakan yang ditanam adalah varietas Alba multicaulis. Tanaman ini berperan penting dalam produksi sutra. Tanpanya, tidak akan ada benang.

Pemeliharaan ulat sutra cukup singkat, tapi punya kesulitan sendiri. Hewan ini hanya mengonsumsi murbei untuk menghasilkan benang. Sensitivitasnya juga sangat tinggi. Sedikit saja udara terkontaminasi input kimia seperti herbisida atau pestisida, ulat akan mati.

Namun di luar perkara sensitivitas, pertanian ulat cukup praktis. Tidak butuh ruang besar karena ukurannya yang mungil. Bisa dilakukan di kolong rumah, ataupun di sekitar pekarangan.

Saat menetas, ulat sutra akan melalui lima masa istirahat (instar). Setiap memasuki fase ini, mereka berhenti makan. Pergantian kulit terus terjadi hingga instar keempat. Dari menetas hingga instar kelima, memakan waktu dua minggu atau lebih. Di masa istirahat terakhir, pergantian kulit berhenti. Ulat sutra bersiap jadi kokon dan memproduksi serat benang.

Kokon harus dijemur lebih dulu. Agar tidak rusak dan mencegah transformasi ulat jadi ngengat. Seleksi tetap dilakukan untuk berjaga. Beberapa kokon mungkin kempes atau berisi ulat mati.

Jika ingin untung besar, sepetak atau dua petak tanah di kebun juga bisa digunakan sebagai lahan kerjanya. Selama tentu saja, bisa dijaga dari kontak dengan input kimia. Ulat juga lebih mudah dipelihara karena jangkauan geraknya kecil. Mereka tidak meninggalkan kandang atau masuk ke pekarangan tetangga.

Limbah dari hasil pemintalan atau seleksi kokon juga jarang yang terbuang. Staf Desa Pising—Bahar, menerangkan kalau sisa-sisa produksi itu biasanya dibuat jadi kerajinan. “Kepompong yang nda bisa di pintal dia kasi jadi vas-vas bunga,” kata Bahar. Sedangkan kulit dari proses pintal, biasanya dijual ke peternak untuk jadi pakan.

Manji (60) petani murbei dan ulat yang tinggal di Desa Pising (21/2/2021).
Manji (60) petani murbei dan ulat yang tinggal di Desa Pising (21/2/2021). Shany Kasysyaf / Lokadata

Siasat untuk bertahan

Budidaya ulat sutra bukan satu-satunya sumber pendapatan dalam rumah tangga Manji. Dia juga menanam kelapa dan kakao di kebunnya untuk menambah pemasukan bulanan. Menurut Nurhaedah Muin dan Wahyudi Isnan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar, usaha sutra alam di Kecamatan Donri-Donri memang seperti itu.

Petani yang menjadikan ulat sutra sebagai mata pencaharian utama, cenderung memadukannya dengan jenis usaha lain. Ada yang beternak kambing atau sapi. Juga seperti Manji yang mengandalkan tanaman jangka pendek seperti kakao, kelapa, dan pisang.

Strategi semacam itu sangat berguna dalam krisis seperti sekarang. Tanaman pangan lebih tahan terhadap guncangan ekonomi dibanding komoditas sandang seperti sutra. Namun bukan berarti tak ada upaya untuk memulihkan keadaan.

Kampung Sabbeta, sejak awal memproduksi kain tenun ecoprint yang pewarnaannya tidak menggunakan bahan sintetis. Awalnya, dimaksudkan jadi bagian dari etalase. Tapi belakangan, kerajinan ini mulai ditawarkan ke warga atau kenalan yang sedang ada hajatan.

Dalam beberapa ritual adat terutama pernikahan, sarung sutra Bugis (Lipa’ Sabbe) memang setelan utama, di luar jas tutup dan baju bodo (baju adat pernikahan untuk mempelai dan keluarga pengantin di Sulawesi Selatan). Ini jadi semacam cara membedakan tamu undangan di sebuah pesta: mana kerabat dan yang bukan. Inilah yang jadi peluang kecil bagi Nudin dan para pelaku usaha sutra lain selama pandemi.

Tak hanya di sekitar Kabupaten Soppeng, Nurdin juga menawarkan benangnya ke berbagai tempat sebagai contoh produk. Ada yang dikirim ke Palembang dan Tangerang. “Dia minta 3 jenis ketebalan kain. Begitu juga benangnya, dia minta 3 jenis. Jadi saya kirimkan 4 jenis,” candanya.

Ke depan, Nurdin juga ada rencana lebih jauh menjajal produksi kain. Tidak hanya fokus ke benang. Hal tersebut perlu dilakukan agar tak ada lagi barang yang menumpuk.

Nurdin menyadari kalau kompetisi pasar cukup ketat. Harga tak bisa ditentukan seenaknya tanpa perhitungan, terutama saat bisnis kain ini nanti baru berdiri. Jika memaksa, akan sulit mencapai target penjualan. Dia berharap, Pemda bisa bantu menalangi keterbatasan dana jika nanti usaha kainnya butuh promosi.

Produk kain Ecoprint olahan Kampung Sabbeta (21/2/2021).
Produk kain Ecoprint olahan Kampung Sabbeta (21/2/2021). Shany Kasysyaf / Lokadata

Baca Lainnya

Satu desa, empat agama
Desa

Satu desa, empat agama

Keragaman adalah fitrah nusantara. Desa Jrahi, Kecamatan Gunung Wungkal, Kabupaten Pati memberikan gambaran penting. Pemeluk agama dan aliran kepercayaan berdampingan dengan rukun, saling menghormati dan menghargai.

Islakhul Muttaqin