Desa

Suaka burung di barat Yogyakarta

Mulanya, perburuan burung menjadi hal biasa di Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelibatan warga dan penerapan Perdes berbuah menjadi desa konservasi.

Nindias Nur Khalika
Suaka burung di barat Yogyakarta
Dua pengendara motor melintas di dekat spanduk kawasan pelestarian burung di Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo (4/3/2021). Nindias / Lokadata

Lebih dari tiga tamu datang ke Omah Kopi Sulingan di Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulonprogo pada Senin, (1/3/2021). Tidak seperti tempat ngopi biasanya, hanya ada satu menu yang tersedia di sana yakni Kopi Sulingan yang diseduh dengan teknik V60.

Kelik Suparno, 41 tahun, menjelaskan jenis minuman yang disajikan adalah tipe robusta. “Sulingan itu nama burung. Di Jatimulyo, burung ini paling diburu,” katanya.

Omah Kopi Sulingan, kata Kelik, membeli kopi dari warga dalam bentuk buah ceri dengan harga Rp8 ribu per kilo. Hasil olahannya dijual Rp20 ribu per 100 gram

Sebelum virus pandemi Covid-19 menyebar, Omah Kopi Sulingan bisa menjual kopi sebanyak 100 kg per bulan. “Kopi paling banyak dikirim ke komunitas capung, pengamat burung, serta fotografer satwa. Kopi ini ada buat mengantisipasi teman-teman yang masih berburu burung juga media promosi desa,” ujarnya.

Tangkapan layar Dashboard Lokadata untuk Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada 2020 jumlah penduduknya mencapai 7.351 jiwa. Mata pencaharian penduduknya didominasi oleh bidang pertanian dan peternakan (36,36 persen) dan wiraswasta (27,9 persen). Dalam Indeks Desa Membangun (IDM) 2020 masuk dalam kategori Desa Maju.
Tangkapan layar Dashboard Lokadata untuk Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada 2020 jumlah penduduknya mencapai 7.351 jiwa. Mata pencaharian penduduknya didominasi oleh bidang pertanian dan peternakan (36,36 persen) dan wiraswasta (27,9 persen). Dalam Indeks Desa Membangun (IDM) 2020 masuk dalam kategori Desa Maju. Lokadata / Lokadata.id

Sejarah konservasi dari secangkir kopi

Desa Jatimulyo terletak di Bukit Menoreh, sebuah pegunungan kapur yang memanjang dari Kabupaten Kulon Progo, Purworejo, dan Magelang. Lahan di daerah itu dikelola masyarakat dengan pola agroforestri atau pengelolaan yang memadukan pengelolaan hutan dengan penanaman komoditas pertanian atau tanaman jangka pendek.

Wilayah Desa Jatimulyo sekitar 80 persen tertutup ekosistem hutan perkebunan. Hal itu yang membuat banyak burung betah tinggal dan berkembang biak seperti burung jenis Anis Merah, Cucak Hijau, dan Kucica Kampung

Kelik Suparno, Koordinator Bidang Konservasi Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanapaksi Desa Jatimulyo (4/3/2021).
Kelik Suparno, Koordinator Bidang Konservasi Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanapaksi Desa Jatimulyo (4/3/2021). Nindias / Lokadata

Kelik yang juga menjadi Koordinator Bidang Konservasi Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanapaksi Desa Jatimulyo mengatakan banyak orang berburu burung di Desa Jatimulyo sebelum tahun 2014.

“Pemburunya kebanyakan orang luar. Otomatis warga lokal juga ikut-ikutan. Kalau orang sini hanya berburu anak burung tetapi orang luar semua dihabisin dan banyak spesies burung di sini hilang," jelasnya.

Menurut Kelik, kondisi berubah sejak disahkan Peraturan Desa (Perdes) Nomor 8 Tahun 2014 tentang Pelestarian Lingkungan Hidup. Dalam aturan itu warga dilarang merusak lingkungan serta menangkap satwa termasuk burung.

Anom Sucondro, 47 tahun, Kepala Desa Jatimulyo saat itu menjelaskan, perburuan satwa, penangkapan ikan dengan metode setrum, dan penambangan batu andesit di lahan terbuka menjadi alasan ia mengeluarkan Perdes. Selain itu kemunculan Perdes berbekal data potensi dan masalah desa yang dikumpulkan sejak 2007.

“Desa ini memiliki potensi alam, fenomena alam, dan kemajemukan SDM serta adat budaya juga agama. Alam yang dimaksud kami punya pegunungan di sini. Sementara fenomena alam kami punya di antaranya keanekaragaman hayati dan cekungan air. Tapi ada masalah yaitu kegiatan yang arahnya eksploitasi,” kata Anom.

Setahun setelah Perdes itu berlaku Kelik bersama dua temannya pada 2015 membuat Kopi Sulingan dari hasil panen petani. Dia bersama dua temannya mendapat pendampingan konservasi berbasis komunitas dari Yayasan Kutilang Indonesia dan Komunitas Peduli Menoreh.

Suhandri, 26 tahun, Koordinator Bidang Wisata KTH Wanapaksi, sedang membuat kopi dengan teknik V60 di Omah Kopi Sulingan untuk pengunjung yang melakukan pengamatan burung bersarang (4/3/2021).
Suhandri, 26 tahun, Koordinator Bidang Wisata KTH Wanapaksi, sedang membuat kopi dengan teknik V60 di Omah Kopi Sulingan untuk pengunjung yang melakukan pengamatan burung bersarang (4/3/2021). Nindias / Lokadata

Setelah itu mereka mengajak mantan pemburu burung untuk mengurusi usahanya di bawah payung Masyarakat Pemerhati Burung Jatimulyo. Kelompok tersebut lantas berganti nama menjadi Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanapaksi pada 2018.

Hingga 2019 sebanyak 50 petani mendapat keuntungan dari penjualan buah ceri kopi yang mencapai 7,5 ton atau setara dengan Rp41 juta. “Sebelum Perdes itu, burung yang diambil kopi dibiarkan. Tapi setelah perdes dicoba untuk dibalik. Kopi diambil, burung dibiarkan,” katanya.

Program adopsi burung bersarang

Kelik bersama Imam Taufiqurrahman serta Sidiq Harjanto dalam tulisan Birds and Coffee: Community-led Conservation in Jatimulyo Village, Yogyakarta, Java, Indonesia mencatat sebanyak 99 spesies burung ditemukan di Desa Jatimulyo tahun 2019. Jumlah itu meningkat menjadi 106 jenis di tahun 2021. Separuh dari 227 total spesies burung di Kabupaten Kulon Progo ada di sana.

Bertambahnya jenis burung di Desa Jatimulyo tak terlepas dari kontribusi warga menjaga hutan. Kelik mengatakan masyarakat juga berpartisipasi dalam program adopsi burung bersarang yang dilakukan KTH Wanapaksi sejak 2016.

Salah satu ukuran keberhasilan adopsi yakni adanya anakan yang keluar dari sarang. Kemudian pengadopsi mendapatkan informasi berkala sedangkan untuk jenis burungnya diberi tanda cincin sebagai tanda sekaligus untuk kebutuhan monitoring.

Program adopsi burung bersarang tak hanya melibatkan warga lokal tetapi juga masyarakat luas. Warga Desa Jatimulyo didorong membuat laporan penemuan sarang burung. Sementara orang luar desa bertindak sebagai pengadopsi burung yang sedang berkembang biak di sana.

Terdapat tiga paket yang bisa dipilih jika individu atau lembaga tertarik menjadi pengadopsi. Paket pertama, Skala Prioritas I (harga Rp1,5 juta) untuk burung yang populasinya berkurang dan terancam. Paket Skala Prioritas II dengan harga Rp1 juta untuk jenis burung pemangsa, burung berkicau, dan burung lain yang populasinya mulai berkurang. Sedangkan Paket Skala Prioritas III (harga Rp800 ribu) untuk kelompok burung endemik dan burung berkicau yang tergolong umum ditemui.

Pendapatan yang diperoleh dari program adopsi digunakan untuk berbagai macam keperluan mulai dari kebutuhan operasional dan kas KTH Wanapaksi hingga insentif buat pemilik lahan, penemu sarang, juga kas RT serta KTH tempat sarang ditemukan. Hingga tahun 2020, 28 sarang telah diadopsi dan sebanyak 43 anakan dari 7 spesies burung berhasil keluar dari sarang.

“Sebelum Perdes kan yang ambil keuntungan hanya si pemburu. Tetapi dengan adopsi ada manfaat yang disebarkan ke warga. Kalau masyarakat luar belum ada yang tertarik mengadopsi maka Kopi Sulingan yang memfasilitasi adopsi burung bersarang,” ujarnya.

Kopi Sulingan olahan KTH Wanapaksi (4/3/2021).
Kopi Sulingan olahan KTH Wanapaksi (4/3/2021). Nindias / Lokadata

Buah konservasi bagi warga

Di samping program adopsi burung bersarang, KTH Wanapaksi juga mengembangkan ekoturisme pengamatan burung. Saat memasuki area hutan pengunjung akan ditemani pemandu yang juga penduduk Desa Jatimulyo.

Paridi, 44 tahun, warga Desa Jatimulyo mengatakan dirinya menjadi pemandu sejak 2019. Pengetahuan tentang burung didapatkan saat masih jadi pemburu, kini digunakan sebagai edukasi dan panduan bagi pengunjung.

Lebih lanjut Paridi menjelaskan kegiatan konservasi memunculkan peluang kerja yang lain. “Imbalan pemandu itu tergantung pengunjung yang datang mau apa. Kemarin menemani orang penelitian itu dapat sekitar Rp500 ribu. Jadi ada penghasilan tambahan,” kata Paridi.

Selain untuk pengamatan burung, ada juga tamu datang untuk meneliti satwa jenis lain, seperti capung. Menurut Kelik, dari data Jambore Capung Indonesia 2017, ada 30 jenis capung di Desa Jatimulyo atau hampir separuh dari total 71 spesies capung di Yogyakarta. Serangga lain seperti kupu-kupu serta hewan amfibi dan reptil juga hidup di sana.

Suaka bagi satwa

Ignatius Dwi Wardana, 43 tahun, seorang fotografer satwa yang rutin berkunjung dan mengikuti perkembangan konservasi di Jatimulyo mengatakan desa itu kini menjadi suaka bagi burung. Dia mengunjungi Desa Jatimulyo tahun sejak 2014.

Menurut Ignatius, dia pernah melihat jenis burung Seriwang Jepang, burung migran yang berkembang biak di negeri Sakura itu kini ada di Jatimulyo. Dia mengatakan usaha konservasi berbasis komunitas seperti di Desa Jatimulyo sangat penting dilakukan, keterlibatan banyak pihak dibutuhkan.

Burung Sulingan atau Sikatan Cacing yang jadi target perburuan sekaligus inspirasi nama kopi olahan KTH Wanapaksi (4/3/2021).
Burung Sulingan atau Sikatan Cacing yang jadi target perburuan sekaligus inspirasi nama kopi olahan KTH Wanapaksi (4/3/2021). Nindias / Lokadata

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Yogyakarta Muhammad Wahyudi menyebut Desa Jatimulyo menjadi desa pertama di Yogyakarta yang melakukan upaya konservasi. Sejak tahun 2012, pihaknya telah melakukan pendampingan kader konservasi di Desa Jatimulyo. Ketika konservasi telah berjalan, KSDA Yogyakarta ikut mengadopsi burung bersarang Sulingan dan melepas burung jenis Elang Ular Bido dan Gelatik Jawa.

“Bentuk dukungan dan partisipasi lain adalah mengenalkan Desa Jatimulyo sebagai desa percontohan tingkat nasional dengan menjadikan desa ini sebagai tempat pembelajaran UPT lain. Konservasi yang menjadi daya tarik wisata di sana menunjukkan kepentingan ekologi dapat diselaraskan dengan kepentingan ekonomi,” katanya.

Biarpun usaha konservasi di Jatimulyo menuai apresiasi, Kelik masih memiliki keinginan lain yang belum tercapai. Dia ingin program adopsi burung bersarang mencakup seluruh desa. Saat ini baru tiga dari 12 dukuh di Jatimulyo yang menjadi penggerak program tersebut.

Kelik berharap semakin banyak relawan membantu pelaksanaan program burung bersarang di masa mendatang. Sebab keberadaan satwa burung di Desa Jatimulyo semakin bertambah dan tetap terjaga.

Baca Lainnya

Alpukat Muria, hasil pertanian Kudus yang kian menggeliat
Desa

Alpukat Muria, hasil pertanian Kudus yang kian menggeliat

Alpukat di kawasan lereng Muria, lambat laun menjadi produk andalan baru selain kopi di Kabupaten Kudus. Perawatan pohon cukup mudah dan hasilnya cukup menjanjikan. Masih ada pekerjaan rumah yang masih perlu dikerjakan, seperti penanaman yang lebih terkonsentrasi dan pencarian alternatif pemasaran.

Islakhul Muttaqin

Biola bambu dari kaki Muria
Desa

Biola bambu dari kaki Muria

Bahannya memanfaatkan bambu yang tumbuh di sekitar lereng Muria. Jenis bambunya wulung dan petung dengan diameter mencapai 20 cm dan panjang 20 meter.

Noor Syafaatul Udhma

Ragam kisah dalam motif batik Kudus
Desa

Ragam kisah dalam motif batik Kudus

Secara umum batik Kudus tergolong sebagai batik pesisiran dengan ciri khas kaya warna dan mencolok. Bukti adanya persilangan budaya antarbangsa.

Noor Syafaatul Udhma