Desa

Satu desa, empat agama

Keragaman adalah fitrah nusantara. Desa Jrahi, Kecamatan Gunung Wungkal, Kabupaten Pati memberikan gambaran penting. Pemeluk agama dan aliran kepercayaan berdampingan dengan rukun, saling menghormati dan menghargai.

Islakhul Muttaqin
Satu desa, empat agama
Gerbang Desa Jrahi, Kecamatan Gunung Wungkal, Kabupaten Pati (12/2/2021). Islakhul Muttaqin / Lokadata

Miko Adi Setyawan menjadi salah satu potret, agama bukanlah merupakan isu penting dalam kontestasi politik. Miko, 31 tahun, menjadi Kepala Desa Jrahi, Kecamatan Gunung Wungkal, Kabupaten Pati sejak 2019 silam. Dia merupakan pemeluk Kristen di tengah sebuah desa dengan empat agama: Kristen, Islam, Buddha dan kepercayaan Sapta Darma. Dua kepala desa terakhir pun berasal dari agama yang berbeda: Surani, pemeluk Buddha dan Salim, seorang muslim.

“Salah satu bentuk nyata dari kerukunan beragama desa kami ya saya ini. Saya dari umat Kristen, yang notabene bukan agama mayoritas di sini,” tutur Miko pada 12 Februari 2021. Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dalam Dashboard Lokadata, pada 2020 desa berpenduduk 2579 jiwa ini, mayoritas beragama Islam (75,4%), lalu Kristen (13,5%), Buddha (10,9%) dan aliran kepercayaan (0,16%).

Konsep keberagaman dan toleransi menurut dia diajarkan secara turun-temurun di Jrahi. Para leluhur mengajarkan konsep paseduluran (persaudaraan) untuk menjaga keharmonisan antar pemeluk agama di Jrahi. Konsep paseduluran mengajarkan, orang lain adalah selayaknya keluarga sendiri.

Dalam bermacam dimensi kehidupan lain, mulai dari sosial, budaya, sampai ekonomi pun aspek agama bukan merupakan isu penting. Begitu memasuki desa ini, kita akan disuguhi macam-macam bangunan keagamaan beragam agama. Masjid dan musala-musala kecil, Wihara Saddha Giri -- wihara terbesar di Kabupaten Pati, tiga gereja, dan bangunan pemeluk Sapta Darma. Pada Desember 2020, desa ini Bupati Kabupaten Pati, Haryanto, menetapkan Jrahi sebagai Desa Wisata Pancasila.

“Karena tidak semua desa memiliki wisata alam maupun masyarakat yang guyup rukun. Sehingga selain dari sisi wisata alam, yang tidak kalah penting juga adalah pengembangan wisata religi yang terkait dengan Desa Wisata Pancasila", kata bupati seperti dilansir di laman Pemerintah Kabupaten Pati.

Desa Jrahi, Kecamatan Gunung Wungkal, Kabupaten Pati dalam tangkapan layar Dashboard Lokadata. Di desa ini menjadi salah satu potret toleransi antar umat beragama di Indonesia.
Desa Jrahi, Kecamatan Gunung Wungkal, Kabupaten Pati dalam tangkapan layar Dashboard Lokadata. Di desa ini menjadi salah satu potret toleransi antar umat beragama di Indonesia. Lokadata / Dashboard Lokadata

Satu keluarga, beragam agama

Jarono (92) adalah pemeluk aliran kepercayaan Sapta Darma. Dia pula yang menjadi penyebar awal ajaran ini di Desa Jrahi. Bermula dari interaksinya dengan pemeluk Sapta Darma di Kecamatan Trangkil pada dekade 80-an, Jarono merasa tertarik mendalami ajaran ini.

Jarono mengatakan, sebelumnya dia mengaku merupakan sosok yang angkuh dan keras kepala. Dia menjadi salah seorang yang ditakuti di Desa Jrahi. “Setelah masuk Sapta Darma, perilaku keras saya perlahan mulai bisa saya kendalikan. Memang inti dari ajaran yang saya ikuti ini ya memperbaiki perilaku manusia. Dari sini saya bisa lebih tenang beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan cara-cara yang mereka ajarkan," tutur Jarono.

Saat menyebarkan ajaran Sapta Darma di Desa Jrahi, Jarono dan kawannya Situ Sardi mengaku tidak menuai kesulitan. Masyarakat sekitar tidak resisten dengan ajaran baru yang masuk di Jrahi. Meskipun Jarono dan Situ Sardi menjadi sosok yang dituakan dalam pemeluk Sapta Darma di desa ini, tak lantas membuat mereka menekan anggota keluarganya untuk mengikuti jejak iman yang dianutnya. Toleransi mereka jalankan di tingkat keluarga dengan memberikan kebebasan untuk memilih agama sesuai dengan kemantapan hati.

Ritual sujud bersama para penghayat kepercayaan Sapta Darma di Desa Jrahi, Kecamatan Gunung Wungkal, Kabupaten Pati. Sebagian besar pemeluk ajaran ini bertempat tinggal di Dukuh Nglorah (12/2/2021).
Ritual sujud bersama para penghayat kepercayaan Sapta Darma di Desa Jrahi, Kecamatan Gunung Wungkal, Kabupaten Pati. Sebagian besar pemeluk ajaran ini bertempat tinggal di Dukuh Nglorah (12/2/2021). Islakhul Muttaqin / Lokadata

“Agama itu soal hati, jadi tidak bisa dipaksakan. Biarkan mereka menentukan jalan sendiri”, ungkap Jarono. Keluarga Jarono sendiri memiliki beragam keyakinan. Almarhum istrinya memeluk agama Islam.

Pusat pemeluk kepercayaan Sapta Darma di Desa Jrahi, berada di Dukuh Nglorah. Di dukuh ini berdiri Sanggar Busono Jrahi yang berada di Dukuh Nglorah RT 4/RW 4. Sanggar ini merupakan hibah dari salah seorang pengikut Sapta Darma Jrahi yang bernama Joyosono. Setiap malam Jumat Wage, para pemeluk Sapta Darma menjalankan ibadah manengku pujo (memanjatkan doa bersama) di sanggar ini. Sampai 2020, menurut Jarono, pemeluk Sapta Darma di Jrahi berjumlah sekitar 40 orang.

Berbeda dengan sang ayah, anak laki-laki Jarono merupakan pemeluk Kristen. Sejak 1983, Suparlan (57) memilih agama Kristen sebagai jalan hidupnya. Keluarga sama sekali tidak ada yang melarang ataupun mendiskriminasi keputusan yang diambil oleh Suparlan. Dia pun menjadi ketua dari Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Karanganyar, Desa Jrahi.

Sebelum tahun 1983, Suparlan memeluk agama Islam. Karena minimnya dakwah di desanya, dia mengaku merasa gelisah dengan hidupnya sendiri terutama tentang keyakinan. Ia mempelajari ajaran-ajaran dari berbagai agama. Pada suatu ketika dirinya mengikuti pelatihan kursus montir yang diadakan oleh Pemuda Golkar. Dari sini Suparlan bertemu dan berinteraksi dengan Tunggul Wulung, seorang umat Kristen Protestan Jawa. Ia banyak dikenalkan dengan ajaran-ajaran welas asih dan konsep ketuhanan.

“Jadi saya memutuskan memeluk agama Kristen memang dari pencarian jati diri saya sendiri. Apalagi setelah saya memperdalam kajian Kristen Jawa yang mempunyai kaitan erat dengan Muria”, tutur Suparlan.

Sentra pemeluk Buddha

Desa Jrahi juga menjadi salah satu pusat pemeluk agama Buddha di Kabupaten Pati. Pada 2013, Wihara Saddha Giri yang merupakan wihara terbesar di Kabupaten Pati selesai dibangun di dukuh Jrahi. Menurut penuturan Kuntani (34), ajaran Buddha di Jrahi bermula dari seorang biksu di daerah Kecamatan Cluwak menyebarkan ajaran Buddha hingga ke daerah-daerah terpencil. Sekitar tahun 1950-an hingga 1970-an agama Buddha menjadi agama mayoritas di Jrahi. Pemeluknya berangsur menurun karena faktor perkawinan.

Meski saat ini pemeluk Buddha hanya 10 persen di desa ini, Wihara Saddha Giri lah yang menjadi ikon dari Desa Jrahi. Tempat peribadatan ini pun menarik wisatawan baik dari Pati maupun luar kabupaten.

“Kami ikut bangga, Buddha dijadikan salah satu ikon desa Jrahi”, ujar Kuntani yang juga menjabat sebagai staf urusan keuangan Desa Jrahi.

Menjadi minoritas, menurut Kuntani, bukanlah persoalan. Baginya, yang terpenting adalah kebersamaan antar umat beragama di Jrahi dan toleransi antar umat beragama. “Kita ini hidup di lingkungan yang kecil. Jadi setiap hari pasti ketemu satu dengan yang lain. Jadi kita mengedepankan kebersamaan, satu sama lain pasti saling membutuhkan”, tuturnya.

Kuntani bercerita, momen kebersamaan umat beragama di Desa Jrahi salah satunya adalah partisipasi masyarakat dalam hari besar Waisak. Tiap kali hari besar itu datang, masyarakat di luar pemeluk Buddha ikut berpartisipasi untuk mengawal dan menjaga setiap kali perayaan hari raya Waisak. Baik umat Islam, Kristen dan penghayat Sapta Darma memberikan penghormatan dan ikut terlibat dalam kegiatan di hari besar ini.

“Saudara kami dari umat agama lain ikut memasang tenda, menyiapkan area parkir dan menjadi petugas keamanan dengan sukarela. Itulah bentuk toleransi yang ditunjukan masyarakat kami,” ujar Kuntani.

Wihara terbesar di Kabupaten Pati, Wihara Saddha Giri, menjadi ikon Desa Jrahi.
Wihara terbesar di Kabupaten Pati, Wihara Saddha Giri, menjadi ikon Desa Jrahi. Islakhul Muttaqin / Lokadata

Momen toleransi

Ahmad Sayukno, seorang tokoh agama Islam sekaligus modin desa, menyatakan sejauh ini interaksi masyarakat berjalan dengan baik. Tidak ada konflik karena faktor agama. Karena, menurut dia, interaksi masyarakat tidak memandang latar belakang agama tetapi terbangun atas identitas satu desa.

Sayukno menerangkan, jika ada orang meninggal apapun agamanya, masyarakat otomatis bergotong-royong untuk ikut prosesi pemakaman. Makam di Jrahi pun tidak dibeda-bedakan berdasarkan agama. Komplek pemakaman dibagi menurut letak pedukuhan. Dalam kegiatan yang lain, seperti acara hajatan pernikahan, kegiatan desa dan kegiatan-kegiatan yang pun masyarakat bersama bergotong-royong tanpa memandang agama. Dalam kegiatan-kegiatan besar tiap agama, semua tokoh agama juga diungan.

“Jadi biasanya itu para tokoh agama di depan, satu meja. Seperti ada pengajian akbar ataupun kegiatan desa, para tokoh diundang semuanya," ujar Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Desa Jrahi ini.

Dalam jabatan politik pun, latar belakang agama tidak menjadi persoalan. Para perangkat di Desa Jrahi berasal dari berbagai latar belakang agama. Kaur Keuangan merupakan umat Buddha. Beberapa anggota BPD dan ketua pengelola wisata dijabat umat Kristen. Tidak ada dominasi mayoritas. Begitu pula dalam momen pemilihan kepala desa sampai pemilihan pemimpin tingkat terkecil, RT.

“Kontestasi politik di desa kami yang ditekankan adalah inovasi, ide dan gagasan untuk membangun desa kedepannya. Jadi tidak memakai agama untuk berkampanye,” terang Kepala Desa Miko Adi Setyawan. Pada Pilkades 2019 terdapat tiga calon kepala desa yang mempunyai latar belakang agama berbeda. Dua diantaranya adalah petahana beragama Buddha (Surani) dan Salim, seorang muslim yang juga pernah menjabat kepala desa sebelum Surani.

“Fenomena kontestasi politik yang diisi dari tiga latar belakang agama itu tidak hanya terjadi dalam Pilkades juga. Dalam jabatan terkecil pun, seperti pencalonan RT ataupun pemilihan ketua BPD seringkali terjadi hal yang sama.Latar belakang agama tidak pernah menjadi penilaian di sini. Yang terpenting adalah visi dan misinya”, kata Miko.

Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Karanganyar,  merupakan satu dari tiga gereja di Desa Jrahi (12/2/2021).
Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Karanganyar, merupakan satu dari tiga gereja di Desa Jrahi (12/2/2021). Islakhul Muttaqin / Lokadata

Baca Lainnya

Dampak Perdes lingkungan dan satwa di Desa Wonocoyo
Desa

Dampak Perdes lingkungan dan satwa di Desa Wonocoyo

Peraturan Desa (Perdes) yang mengatur perlindungan sejumlah tumbuhan dan satwa. Namun ada kekhawatiran warga jika kelebihan populasi burung, saat musim panen tanaman warga diserbu kawanan burung pemakan biji-bijian.

Mukti Satiti

Memaksimalkan status desa wisata dengan produk warga
Desa

Memaksimalkan status desa wisata dengan produk warga

Selain memiliki bentang alam yang memikat, status desa wisata di Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatra Utara juga ditopang oleh produk khas warga. Tenun ulos khas Batak yang motif dan kualitasnya dijaga secara turun temurun.

Arifin Al Alamudi