BUMDes

Bumdesmart, pasar digital untuk komoditas lokal

Sejumlah BUMDes memanfaatkan teknologi internet untuk memasarkan produk mereka. Ada pelatihan khusus agar produk lebih laku.

Islahuddin
Bumdesmart, pasar digital untuk komoditas lokal
Tangkapan layar situs Bumdesmart.id. Lokadata / bumdesmart.id

Sejak dua tahun lalu Direktur Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Kemendesa, Samsul Widodo bekerja sama dengan sejumlah e-commerce di Indonesia untuk memasarkan dan menjual produk perdesaan, baik itu produk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau milik UMKM.

Hasilnya lumayan, sejumlah gerai toko e-commerce berdiri di beberapa desa. Di gerai itu aneka produk milik desa siap dipasarkan secara online. Kerja sama lancar meski ada jenis barang yang jarang peminatnya. “Setelah berjalan dua tahun ternyata 80 persen pembeli dari wilayah Jabodetabek dan Pulau Jawa,” kata Samsul kepada Lokadata.id, Jumat (18/09/2020). “Teman-teman luar Jawa dan pelosok ini kesulitan memasarkan produknya, karena biaya logistik yang mahal ke Jawa.”

Internet dan teknologi digital memang tak sepenuhnya membuat persaingan pasar seimbang. Biaya logistik yang pro pasar tentu hanya peduli pada wilayah potensial secara komersial seperti tingkat kepadatan penduduk dan infrastruktur yang memadai. Infrastruktur layanan komunikasi juga tidak merata. Lazimnya hukum pasar terbuka, tidak ada diskon bagi mereka yang banyak kekurangan fasilitas dasar itu.

Direktur Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal, Kemendesa, Samsul Widodo.
Direktur Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal, Kemendesa, Samsul Widodo. Kemendesa / ditjenpdt.kemendesa.go.id

Padahal, kata Samsul, produk desa banyak yang tidak tahan lama seperti hasil pertanian dan peternakan. “Bisa dijual di pasar setempat. Tapi bagaimana kalau desa sendiri sudah cukup dan ingin dijual ke wilayah terdekat lainnya,” ujar Samsul.

Samsul lalu berkoordinasi dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informatika. Terbentuklah situs online yang memudahkan BUMDes dan UMKM memasarkan produk mereka dalam jangkauan lokal. Situs itu tentu saja dibuat dengan syarat mudah digunakan, ringan dalam hal akses, sederhana, serta mampu menghubungkan pembeli dan penjual lokal di wilayahnya.

Situs itu bernama bumdesmart.id. Ia menjadi semacam lapak antara pedagang lokal dengan memakai aplikasi Whatsapp. Sedangkan transaksi bisa dilakukan secara tunai dan nontunai, tergantung kesepakatan antara pembeli dan penjual. Situs Bumdesmart menjadi semacam situs utama dalam hal pemasaran, dan ikut menampilkan situs pedagang, produk dan harganya, dalam situs tersendiri.

Dalam situs itu tercantum nama pedagang atau BUMDes/UMKM dan alamat penjualnya, lalu informasi jenis barang atau produk yang dijual beserta harganya. Calon pembeli yang berminat dapat memasukkan barang ke keranjang, dan berkomunikasi dengan admin toko via Whatsapp.

Pelatihan dan pendampingan

Direktur Layanan Telekomunikasi dan Informasi, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) KemKominfo, Januar Ismawan mengatakan platform bumdesmart.id, awalnya berfungsi sebagai tempat sosialisasi perdagangan online tingkat lokal atau masyarakat desa. Pedagang dan pembeli dapat langsung berkontak, dan pihaknya hanya memastikan toko penjual memang ada dan memiliki barang sesuai katalog. Soal pengiriman barang tergantung kesepakatan kedua pihak.

“Target jangka pendek program ini adalah 100 toko online Bumdes dan UMKM desa dari seluruh Indonesia. Ini mencerminkan tantangan transformasi digital di setiap wilayah, yang kemudian dapat menjadi pembelajar dan acuan replikasi program untuk menjangkau Bumdes dan UMKM desa secara lebih luas,” kata Danny kepada Lokadata.id via email, Kamis (17/09/2020).

Direktur Layanan Telekomunikasi dan Informasi, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti)  KemKominfo, Danny Januar Ismawan
Direktur Layanan Telekomunikasi dan Informasi, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) KemKominfo, Danny Januar Ismawan / Bakti Kominfo

Lebih lanjut Danny menjelaskan, programnya tak berambisi menyaingi keberadaan e-commerce di Indonesia. Targetnya adalah perubahan pola pikir dalam menggunakan teknologi digital untuk pemasaran dan jual beli. “Melalui program ini peserta program memiliki pemahaman lebih lengkap tentang perdagangan online tingkat lokal dan nasional, sehingga mereka bisa memanfaatkan platform ecommerce lain dengan lebih tepat sesuai daya saing produk mereka,” ujar Danny.

Sejak diluncurkan, menurut Danny, tercatat sudah 500-an pendaftar yang berminat. Lembaganya tetap melakukan seleksi dan kurasi berdasarkan wilayah dengan unsur keterwakilan dari seluruh provinsi. Juga diperhitungkan jenis usaha perdagangan dan persewaan dan ketersediaan internet di lokasi. Semua peserta juga melewati proses verifikasi data lewat wawancara.

Setelah lolos seleksi, para peserta program mendapat pelatihan. Materinya beragam, dari memahami konsep produk, mempersiapkan dan mengembangkan produk lokal, membuat foto yang memikat, menulis deskripsi produk, sampai cara mengunggah produk toko online masing-masing.

Menurut Samsul, pelatihan dan pendampingan itu sepertinya terlihat gampang. Siapapun bisa melakukannya. Bahkan kalau mau belajar sendiri, banyak modul gratis di internet. Tapi tentu tidak semudah itu bagi mereka yang belum mengenal teknologi informasi seperti di wilayah terpencil. “Butuhkan usaha dan kesabaran dalam hal pelatihan,” kata Samsul.

Saat ini masih dilakukan proses seleksi untuk mengejar target 100 toko di bumdesmart.id. Menurut Danny, mereka sedang mengembangkan situs itu sebagai tempat belajar bagi peserta program. Materi pelatihan sesi workshop jarak jauh nantinya juga bisa diunduh, dan pemilik toko bisa berkomunikasi dengan pengampu program. Baik itu soal aktivitas toko, jumlah kunjungan toko, hingga pembeli. Juga memberikan masukan atas kendala di lapangan.

Dampak

Tiga toko online lokal tampak tampil di situs bumdesmart.id saat ini, yaitu BalidooMart dari Bumdes Hatukau, Negeri Batu Merah, Sirimau, Ambon. Dapur Kita dari Bumdes Au Wula, Desa Detusoko Barat, Kecamatan Detosoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Terakhir GS Organik dari Desa Penfui Timur, Tengah, Kupang, NTT.

Pengelola Toko Dapur Kita Bumdesmart.id, Ferdinandus Watu mengatakan program itu sangat membantu tim BUMDes di desanya. Apalagi sejak Maret lalu, kata Ferdinandus alias Nando, akibat pandemi, kebijakan jaga jarak dan larangan berkumpul berdampak negatif bagi usaha perdagangan pertanian BUMDes Au Wula, Desa Detusoko Barat.

Kepala Desa Detusoko Barat Ferdinandus Watu.
Kepala Desa Detusoko Barat Ferdinandus Watu. / Dokumentasi pribadi Ferdinandus Watu

Sebelum pandemi, selaku kepala yang juga Kepala Desa Detusoko Barat meminta BUMDes menjual sayur hasil panen petani. BUMDes mengambil hasil panen atau petani yang mengantarkan ke badan usaha itu. Ada sekitar 60 petani kini yang menjadi mitra di delapan desa dan tiga kecamatan.

Sebelum berjualan di bumdesmart.id, BUMDes Au Wula berjualan melalui Facebook. Mereka menawarkan beragam paket sayur, minimal tiga paket, dengan harga sekitar Rp50 ribu hingga Rp75 ribu. Paket itu diposting sehari sebelum panen dari petani. Dari postingan itu pesanan mengalir dari wilayah sekitar Kabupaten Ende dan Maumere. Harga sayur belum termasuk ongkos kirim. Rentang ongkos kirim dari Rp5 ribu sampai puluhan ribu.

Setelah pesanan masuk, sore hari sebelum hari H, semuanya dikalkulasi termasuk jenis angkutan pengirim sayur. “Jika masih di satu wilayah kabupaten dan desa kami menggunakan ojek setempat. Jika sudah ke Kabupaten Maumere kami sewa pickup yang akan ke Maumere,” kata Nando kepada Lokadata, Jumat (18/09/2020).

Perbandingan wilayah dalam Dashboard Lokadata. Desa Detusoko Barat, Kecamatan Detosoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam Indeks Desa Membangun (IDM) 2020 masuk dalam status Desa Berkembang. Sebelumnya, dalam IDM 2029 masuk dalam kategori Desa Tertinggal.
Perbandingan wilayah dalam Dashboard Lokadata. Desa Detusoko Barat, Kecamatan Detosoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam Indeks Desa Membangun (IDM) 2020 masuk dalam status Desa Berkembang. Sebelumnya, dalam IDM 2029 masuk dalam kategori Desa Tertinggal. Lokadata / Dashboard Lokadata

Berjualan di Facebook atau di Bumdesmart, menurut Nando, prinsipnya sama saja. Namun kelebihan di BUMDesmat adalah calon pembeli bisa fokus dengan sayur dan paket yang ditawarkan. Pengantaran barang juga lebih mudah dengan permintaan informasi lokasi alamat ke admin.

“Saat pakai Facebook, masih sering ketuker barang ke pembeli saat diantar. Dengan sistem Bumdesmart kami hanya perlu fokus pada situs, semua pesanan langsung dikirimkan ke Whatsapp admin kami beserta alamat pengiriman. Kami jawab ketersediaan barang dan uang yang harus dibayarkan pembeli,” ujar Nando.

Website itu menata jenis pesanan, alamat tujuan, hingga harga. Semua data pesanan itu dikirimkan ke Whatsapp admin. Baru kemudian komunikasi intens di Whatsapp jika ada tambahan lainnya. Kelebihan lain, menurut Nando, mereka bisa meminta ke Bumdesmart memakai takaran lokal dalam jual beli. “Untuk sayur kami mengikuti istilah lokal, misalnya satu ikat kangkung, satu gelas cabai, dan istilah takaran lokal lainnya.”

Meski sudah online, kendala yang dihadapi Nando adalah jika ada pesanan mendadak. Terpaksa tidak bisa dilayani, karena sistemnya memakai informasi dari rencana panen petani dan jenis komoditas yang akan dipanen dan kuantitasnya.

Gestianus Sino
Gestianus Sino / Dokumentasi pribadi Gestianus Sino

Hal senada juga dikatakan pemilik GS Store Gestianus Sino, 37 tahun. Menurut dia, sistem bumdesmart.id memudahkan proses pesanan konsumen. “Pesanan dari sistem ini berkisar hingga empat orang sehari,” kata Gestianus atau kerap disapa Gesti kepada Lokadata, Sabtu (19/09/2020).

GS Store adalah nama toko online dari GS Organik. Mereka bertani organik sejak 2013 di Desa Penfui Timur, Tengah, Kupang, NTT. Usaha yang dirintisnya menggunakan sistem pertanian organik yang terintegrasi dengan peternakan.

Menurut Gesti para pelanggannya adalah pembeli loyal dengan tanaman organik. “Pelanggan kami tahu nomor kontak kami. Jadi mereka biasa langsung nelpon sendiri tanpa ke aplikasi. Tapi seiring makin tumbuhnya penggunaan smartphone di sini, kami harus tetap eksis di Bumdesmart ini untuk jangka panjang,” ujar Gesti.

Baca Lainnya

Desa dan Indeks Desa
Analisis Kebijakan

Desa dan Indeks Desa

Pemerintah sejak 2014 telah memulai era baru dalam mengawal pembangunan ekonomi. Pada isi Nawacita sekurangnya tafsir itu terpapar dalam tiga cita: membangun dari pinggiran, peningkatan produktivitas ekonomi rakyat, dan kemandirian ekonomi

Ahmad Erani Yustika