Desa

Agar hemat 'baralek gadang' di Ranah Palabi

Acara hajatan, baik pernikahan, khitanan atau lainnya identik dengan biaya besar. Terlebih untuk daerah-daerah dengan akses yang sulit. Pemuda di Ranah Palabi menyiasati dengan bikin penyelenggara acara lokal sendiri. Diinisiasi oleh pemuda, untuk memberdayakan ekonomi desa.

Lutfi Nurul Rosyidah
Agar hemat 'baralek gadang' di Ranah Palabi
Fasilitas untuk acara pernikahan milik Bekisar Pemuda, Jorong Bukit Subur, Ranah Palabi (23/2/2021). Lutfi Nurul Rosyidah / Lokadata

Ranah Palabi adalah salah satu desa transmigrasi yang terbilang terpencil di Kecamatan Timpeh, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Sebuah desa kecil yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Akses ke pusat kabupaten dan provinsi terbilang jauh. Jarak desa ke pusat Kabupaten Dharmasraya ditempuh kurang lebih 55 menit perjalanan, kira-kira 30-40 kilometer. Sementara jarak ke ibukota provinsi, Padang, kurang lebih 150 kilometer.

Akses menuju desa masih melalui jalan-jalan berlubang, beberapa masih dari tanah dan dapat dipastikan becek jika hujan. Beberapa jembatan kayu harus dilewati untuk mencapai desa. Kesan terpencil semakin terasa saat mulai memasuki desa, dengan rimbunnya kelapa sawit dan pemukiman warga yang tidak padat. Jarak antar rumah antara 3 sampai10 meter dengan didominasi kelapa sawit di sekeliling permukiman. Suasana sepi semakin lengkap pada malam hari, gelap karena tak ada penerangan jalan.

“Kalau kita pesan barang dari luar, pasti kena ongkos yang mahal karena jalannya jelek dan jauh,” kata Muhammad Mahfud (52 tahun), salah satu warga Ranah Palabi.

Kondisi Ranah Palabi inilah yang berdampak pada minimnya penyedia barang dan jasa. Salah satunya penyedia jasa event organizer. Sebagai desa jauh dari hiruk pikuk kota, warga tidak pernah menikmati pesta yang megah dan meriah karena terbentur biaya transportasi dan operasional yang tinggi. Karena itu pada 2015, Zaini (48 tahun), ketua pemuda kala itu, mulai menginisiasi berdirinya event organizer dan penyewaan alat-alat pesta skala lokal di Jorong Bukit Subur. Jorong setara dengan dusun atau dukuh. Harapannya sederhana, agar masyarakat lebih bisa berhemat saat baralek gadang, berpesta besar seperti hajatan perkawinan dan khitanan.

Nagari (desa) Ranah Palabi dalam tangkapan layar Dashboard Lokadata. Ranah Palabi termasuk dalam kategori desa berkembang pada IDM 2020.
Nagari (desa) Ranah Palabi dalam tangkapan layar Dashboard Lokadata. Ranah Palabi termasuk dalam kategori desa berkembang pada IDM 2020. Dashboard Lokadata / Lokadata

Modal gotong-royong

Meski secara fasilitas terbatas, tetapi modal sosial masih lekat dan kuat di Nagari Ranah Palabi. Gotong-royong dalam baralek gadang adalah tradisi yang terus dijaga. “Saya kira ini tradisi baik untuk menjalin silaturahmi ya, baik tua maupun muda,” kata Wali Nagari (kepala desa) Ranah Palabi, Salman Alfarisi (35 tahun).

Kelompok pemuda biasanya didapuk menjadi "koordinator" acara. Tugas mereka mulai mengatur persiapan acara, memastikan pelaksanaan lancar, sampai mengurus tetek-bengek pasca acara. “Kita memakai sistem gotong royong, biasanya memang pengurus pemuda yang jadi koordinator acara,” kata Kepala Jorong Bukit Jaya, Muksin Arafat (48 tahun), Jum’at 19/2/2021.

Jasa katering tidak dipakai di nagari ini. Jauh sebelum acara tuan rumah dengan dibantu warga, baik laki-laki maupun perempuan, memasak bersama untuk keperluan baralek gadang. “Sebanyak apapun tamu undangan ya ditanggung bersama,” cerita Muksin dengan antusias. Seluruh panitia bertugas secara sukarela. Imbalannya adalah bergiliran bantuan saat melangsungkan acara pernikahan maupun hajatan lainnya.

Praktik gotong-royong tersebut telah berjalan bertahun-tahun di Ranah Palabi dengan intensitas acara yang cukup padat. Menurut Muksin, dalam satu tahun setiap jorong akan melaksanakan minimal 5 acara dalam satu jorong. Terlebih sebelum pandemi Covid-19 angka tersebut bisa berubah menjadi dua kali lipat.

Akses utama menuju Jorong Bukit Jaya dan Bukit Tujuh, Nagari Ranah Palabi, Kecamatan Timpeh, Kabupaten Dharmasraya (15/2/2021).
Akses utama menuju Jorong Bukit Jaya dan Bukit Tujuh, Nagari Ranah Palabi, Kecamatan Timpeh, Kabupaten Dharmasraya (15/2/2021). Lutfi Nurul Rosyidah / Lokadata

Inisiatif kelompok pemuda

Yang kurang di Ranah Palabi adalah soal perlengkapan dan sarana untuk baralek gadang. Zaini, bersama kelompok pemuda, memulai membuat jasa penyelenggara acara (event organizer) dengan modal seadanya dan bantuan dari sana-sini. Kas pemuda sebesar Rp 2.000.000 dari iuran warga di Jorong Bukit Subur digunakan untuk membeli barang pecah belah dan peralatan dapur. Pada 2019, suntikan dana tambahan didapatkan dari bantuan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi sebesar 40 juta rupiah.

Saat ini, peralatan di Bukit Subur sudah cukup lengkap. Bekisar Pemuda, nama jasa penyelenggara acara dari Jorong Bukit Subur, tidak hanya menyewakanperalatan pecah belah dan tenda untuk hajatan. Mereka sudah merambah pada jasa dekorasi, fotografi, hingga tata rias. Tarif yang ditentukan adalah kisaran 6-14 juta rupiah tergantung permintaan dan jenis item yang dipesan sesuai keinginan. Jika menyewa jasa di luar Ranah Palabi, harganya berkisar antara 18 sampai 27 juta.

Agung Budianto, 28 tahun, yang juga staf di kantor Nagari Ranah Palabi, pernah menggunakan jasa Bekisar Pemuda tahun lalu. Menurutnya, ia merasa puas dengan pelayanan dan fasilitas yang diberikan. “Senang sih, hasilnya tidak mengecewakan. Karena anggota, jadi dapat diskon murah,” ungkapnya penuh rasa syukur.

Hal sependapat disampaikan Denik Fatimah (24 tahun), selain karena harga terjangkau menurutnya Bekisar Pemuda adalah hasil karya pemuda desa yang patut dibanggakan. “Jadi kalau pakai itu kayak ikut mempromosikan daerah sendiri,” terang pengantin baru yang melangsungkan pernikahan pada 5 Maret 2021 ini.

Aset milik Bekisar Pemuda, kelompok pemuda di Jorong Bukit Subur, Nagari Ranah Palabi (6/5/2021).
Aset milik Bekisar Pemuda, kelompok pemuda di Jorong Bukit Subur, Nagari Ranah Palabi (6/5/2021). Lutfi Nurul Rosyidah / Lokadata

Selain Jorong Bukit Subur, gerakan bisnis serupa juga muncul di jorong lain. Ketua pemuda Jorong Bukit Jaya, Paimin (44 tahun) merasa perlu menyediakan alat-alat yang dibutuhkan saat pesta untuk disewakan. “Ya ini kan dari warga, diurus warga, nantinya untuk warga. Toh acara seperti ini selalu ada,” terangnya.

Di Jorong Bukit Jaya sendiri penyediaan alat-alat sudah berlangsung sejak Januari 2020. Sebagian modal berasal dari dana program pokok pikiran (pokir) DPRD Dharmasraya sebesar 20 juta rupiah pada 2020. Sama halnya Jorong Bukit Subur, Paimin memulai bisnis ini dengan melibatkan pengurus pemuda desa maupun warga yang memang aktif pada kegiatan-kegiatan desa. “Awal-awal kami tembus program pokir dewan dua puluh jutaan lah, lalu kami tambah dengan kas, harian” kenang Paimin.

Sejak pertama kali dirintis, kelompok pemuda Bukit Jaya sudah berhasil melayani pesanan sebanyak 7 kali. “Alhamdulillah mulai bisa mencicil membeli barang sedikit demi sedikit, sekarang peralatan kami sudah lumayan, sudah ada pecah belah lengkap beserta tenda dan kursi,” kata Paimin

Paimin menambahkan aset tersebut sudah bisa memfasilitasi 100-200 tamu undangan dengan murah. Cukup dengan merogoh kocek sejuta sampai satu setengah juta rupiah, dengan konsep sederhana: hanya tenda, meja, dan kursi tanpa pelaminan. Lebih hemat jika dibandingkan memesan melalui jasa persewaan di kota kabupaten dengan kisaran harga antara 5-8 juta rupiah untuk fasilitas serupa. Harga tersebut tentu terjangkau bagi mayoritas warga yang berprofesi sebagai petani dan buruh tani.

Potensi sumber penghasilan warga

Zusro Al’avat (35 tahun), Sekretaris Nagari Ranah Palabi mengungkapkan, gerakan seperti ini layak diapresiasi dan didukung. “Ya bagus, itu gerakan teman-teman pengurus pemuda dan warga. Alhamdulillah, direspons baik oleh masyarakat luas,” ungkapnya. Zusro yang juga pengurus di Bekisar Pemuda ini menambahkan meski didasari gotong-royong, tetapi kedua gerakan ini tetaplah rintisan bisnis. Karenanya, seluruh tim yang bekerja, diperhitungkan secara profesional agar menjadi sumber penghasilan tambahan.

“Setiap selesai acara kita dapat 2-5 juta. Jadi anggota yang ikut kita hitung setara dengan kerja harian, kira-kira dapatnya 100-200 ribu, sisanya masuk kas,” terang Zusro.

Untuk perawatan aset, Bekisar Pemuda menyerahkannya pada satu keluarga, keluarga Sarwidi (50 tahun). “Kebetulan rumah kami jadi gudang alat-alat, ya kami bagian bersih-bersih dan cuci alat,” kata Purniati, (13/3/2021). Istri Sarwidi, Purniati bersyukur dapat penghasilan juga setiap ada event.

Meski sudah mampu memenuhi target jangka pendek, menurut Zusro, masih banyak perbaikan yang harus dilakukan. Misalnya soal publikasi media sosial yang belum terlalu baik, hanya modal asal unggah saja. Kemudian sistem pengelolaan keuangan mesti dipisahkan dari keuangan kelompok pemuda.

“Harapannya rintisan ini terus berkembang dan berekspansi lebih jauh dan bertahan lama. Yang paling penting, agar selalu bermanfaat bagi semua pihak, dan tetap menjunjung nilai gotong-royong,” kata Zusro.

Acara pernikahan yang diselenggarakan dengan jasa kelompok Bekisar Pemuda, Jorong Bukit Subur, Ranah Palabi (5/3/2021
Acara pernikahan yang diselenggarakan dengan jasa kelompok Bekisar Pemuda, Jorong Bukit Subur, Ranah Palabi (5/3/2021 Lutfi Nurul Rosyidah / Lokadata

Baca Lainnya

Dampak Perdes lingkungan dan satwa di Desa Wonocoyo
Desa

Dampak Perdes lingkungan dan satwa di Desa Wonocoyo

Peraturan Desa (Perdes) yang mengatur perlindungan sejumlah tumbuhan dan satwa. Namun ada kekhawatiran warga jika kelebihan populasi burung, saat musim panen tanaman warga diserbu kawanan burung pemakan biji-bijian.

Mukti Satiti

Suaka burung di barat Yogyakarta
Desa

Suaka burung di barat Yogyakarta

Mulanya, perburuan burung menjadi hal biasa di Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelibatan warga dan penerapan Perdes berbuah menjadi desa konservasi.

Nindias Nur Khalika

Geliat dan peluang lain setelah sukses industri di Kudus
Desa

Geliat dan peluang lain setelah sukses industri di Kudus

Hampir 80 persen ekonomi Kabupaten Kudus ditopang industri pengolahan. Sektor lain bisa memanfaatkan hal itu dengan jeli melihat peluang dan pasar serta kerjasama antar industri besar, sedang, hingga skala mikro kecil menengah.

Afthonul Afif